Penulis : Belarmino Lapong
FIJUS.ID, Vatican – “Tuhan sama sekali tidak mendengarkan doa mereka yang mengobarkan perang.” Penegasan keras ini disampaikan Paus Leo XIV dalam Misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Minggu (29/3/2026).
Membuka rangkaian Pekan Suci 2026, Paus memanfaatkan momen simbolis masuknya Yesus ke Jerusalem sebagai “Raja Damai” untuk mengecam segala bentuk penggunaan agama dalam membenarkan kekerasan. “Yesus adalah Raja Damai, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” tegasnya sebagaimana dikutip dari Vatican News.
“Ia tidak mendengarkan doa-doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya,” ujar Paus Leo XIV.
Namun, di saat Paus menyuarakan perdamaian dari Vatikan, situasi diskriminatif terjadi di Jerusalem. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, umat Kristiani dan para pemimpin tertingginya dilarang merayakan rangkaian Paskah di Gereja Makam Kudus akibat blokade total oleh otoritas Israel.
Sejak 28 Februari 2026, Israel telah menutup kompleks suci di Kota Tua Jerusalem. Kebijakan ini mengakibatkan situs-situs suci, mulai dari Masjidil Aqsa hingga Gereja Makam Kudus, tidak dapat diakses oleh umat beragama di saat-saat paling krusial bagi iman mereka.
Menutup rangkaian pembukaan Pekan Suci di Lapangan Santo Petrus, Paus Leo XIV mengeluarkan seruan mendesak untuk penghentian senjata dan rekonsiliasi global. Di hadapan ribuan umat, ia menegaskan bahwa perdamaian sejati hanya bisa terwujud jika dunia mampu melihat setiap manusia sebagai saudara.
Paus secara khusus memberikan perhatian pada penderitaan umat di Timur Tengah yang terjebak dalam eskalasi kekerasan. Ia menyoroti fakta menyedihkan di mana banyak umat Kristen di wilayah konflik tersebut kini kehilangan hak dasar mereka untuk menjalankan ritus keagamaan secara utuh.
“Pada awal Pekan Suci, doa kita lebih dari sebelumnya tertuju kepada umat Kristen di Timur Tengah, yang menderita akibat konflik brutal dan dalam banyak kasus, tidak dapat sepenuhnya mengikuti liturgi hari-hari suci ini,” ujar Paus.

Penghadangan Terhadap Pemimpin Gereja
Puncak ketegangan terjadi pada Minggu Palma kemarin. Aparat Israel secara fisik melarang rombongan imam yang hendak menuju Gereja Makam Suci. Mereka yang dihadang adalah Patriarkat Latin Jerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, dan Wali Tanah Suci, Francesco Lelpo.
Mereka dipaksa berbalik arah, sebuah tindakan yang disebut sebagai preseden buruk dan pelanggaran serius terhadap kebebasan beribadah.
“Akibatnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa abad, Kepala Gereja dicegah untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci,” bunyi pernyataan bersama resmi dari rilis resmi berjudul Joint Press Release The Latin Patriarchate of Jerusalem and the Custody of the Holy Land (29/3/2026).
Pihak Gereja menyatakan telah bersikap kooperatif sejak awal perang dengan mematuhi pembatasan pertemuan publik demi keamanan. Namun, pelarangan masuk bagi Kardinal dan Wali Tanah Suci dinilai sebagai tindakan yang “jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional.”
Pelanggaran Status Quo
Blokade ini dianggap sebagai penyimpangan ekstrem dari prinsip kewajaran dan penghormatan terhadap status quo tempat suci. Jika sebelumnya pada tahun 1990 dan 2018 penutupan gereja terjadi atas inisiatif para imam sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Israel, kali ini penutupan dilakukan secara sepihak oleh otoritas keamanan Israel di tengah Pekan Suci.
Kondisi ini menciptakan ironi mendalam; Muslim dilarang masuk ke Al Aqsa selama Ramadhan, dan kini umat Kristiani kehilangan akses ke Jalan Salib Suci di Kota Tua Jerusalem.
Paus Leo XIV dalam berkat khususnya menyampaikan dukacita mendalam, terutama bagi umat di Timur Tengah yang terus menderita akibat konflik. “Dalam banyak kasus, mereka tidak dapat sepenuhnya menghayati ritus hari-hari suci ini,” pungkasnya.

